Eksistensi kopi luwak
saat ini sudah tidak perlu diragukan lagi. Nyaris tidak ada negara di belahan
dunia mana pun yang luput dari kunjungan kopi luwak khas Indonesia. Tentu kita
harus merasa bangga sebagai warga Negara Indonesia.
Sebelum terlalu lama
menepuk dada karena bangga, lebih baik kita napak-tilas
dulu perjalanan kopi luwak ini. Berdasarkan kronologinya, inilah 4 perjalanan
kopi luwak yang harus dikenang.
1. Impor Kopi Arabika
Besar-besaran dari Timur Tengah
Jauh sebelum Indonesia
merdeka, Belanda pernah terlilit utang negara yang cukup mencekik. Alhasil,
ketika Indonesia berada dalam tampuk kekuasaan Belanda, sering dijadikan target
eksploitatif demi keuntungan sendiri. Pada waktu itu, biji kopi Arabika menjadi
salah satu komoditas ekspor yang paling menjanjikan.
Sedangkan varietas kopi
Arabika ini berada di Timur Tengah. Khususnya Turki dan Yaman. Maka, dibentuklah
aturan yang mengikat warga Indonesia agar mau bersama-sama menanam kopi. Tentu
dengan syarat hasil kopinya diserahkan pada pemerintah Belanda. Jadi untuk
petani kopi asal Indonesia hanya diberi sisa-sisa saja.
2. Kopi Luwak Bermula
dari Keresahan Petani Kopi
Penindasan yang
dilakukan Belanda itu melahirkan generasi penggerutu. Para petani tak
henti-hentinya menggerutu tentang nasib dan keadilan. Sayangnya gerutuan itu
tidak digubris oleh Belanda. Siapa yang menentang aturan Belanda, justru akan
dihukum secara fisik maupun mental. Akhirnya tidak ada yang bisa diperbuat oleh
para petani kopi.
Sebuah celah baru muncul
ketika musang di sekitar perkebunan ditemukan sering mengonsumsi kopi Arabika
yang ditanam. Para petani kopi mengamati betul tingkah musang atau luwak itu.
Sampai hari-hari kemudian, mereka banyak menemukan kotoran luwak dengan biji
kopi utuh yang masih menempel.
Kesempatan itu tentu
tidak disia-siakan oleh mereka. Toh, pemerintah Belanda tidak terlalu peduli
dengan kotoran binatang. Para petani kopi seakan-akan tercerahkan. Mereka mengambil
kopi dari kotoran itu. Lalu mencuci bersih, menjemurnya, dan menyangrainya.
Ternyata minuman kopi itu sangat nikmat. Diam-diam mereka menyembunyikannya.
3. Saat Belanda
Pertama Mengetahui Kopi Luwak
Pihak Belanda, melalui
Johannes Van den Bosch mengendus ada yang aneh dari para petani kopinya. Seakan-akan
mereka menyembunyikan sesuatu yang besar. Sampai suatu hari, Van den Bosch memergoki
petani kopi Indonesia yang lagi ngopi.
Kemudian dia mencicipi rasanya. Setelah itu, kopi luwak lantas diblokir dari
akses para petani kopi.
Sampel kopi luwak tersebut
diteliti di negeri Belanda. Mulai dari rasa, kandungan gizi, hingga potensi
pasarnya. Mengingat proses jadi kopi luwak sangatlah rumit. Akhirnya, Belanda
tidak hanya menjual komoditas kopi Arabika biasa saja, melainkan bersama kopi
luwak. Bahkan keuntungan yang didapatkan berlipat ganda.
4. Saat Pamor Kopi
Luwak Kian Melejit
Akhirnya, dari tahun
ke tahun, pamor kopi luwak khas Indonesia mulai dikenal di banyak negara di
belahan dunia. Sampai ketika Indonesia berlepas dari kolonialisme, pamor kopi luwak
cenderung stabil. Terlebih lagi, saat nama kopi luwak disebut-sebut dalam film The Bucket List dan juga acara yang
dibawakan oleh Oprah Winfrey.
Berkat dua momen itu, kecurigaan
dunia bahwa kopi luwak hanyalah kabar burung pun sirna. Pasar semakin meminati
kopi luwak jauh melebihi kopi pada umumnya. Berkat produksi kopi luwak ini, para
perajin kopi luwak semakin menghargai populasi musang. Tentunya ini jadi kabar
bagus, mengingat Indonesia merupakan rumah satwa terbesar di dunia.
Kopi luwak memang berawal
dari sejarah kelam, tetapi akhirnya berbuah manis. Syukurnya, Industri kopi luwak ini di Indonesia cukup besar. Pasalnya kopi luwak ini akan jadi legenda karena harganya yang sangat
mahal. Tentu berbeda dengan kopi luwak palsu yang harganya cuma seribuan.

Post a Comment