SEBELUMNYA, saya juga tidak menduga atau menyangka, jika jadi pengurus
KONI Sumbar itu bisa mendapatkan uang ratusan juta dengan kepintaran
mengotak-atik dana APBD Sumbar yang dihibahkan. Caranya, bisa melalui
dalih pembelian kebutuhan atlet, seperti membeli baju, peralatan
olahraga, penginapan, transfortasi dan tetek benget yang lain atas nama
kebutuhan atlet.
Pokoknya, setiap ada kejuaraan, seperti PORWIL dan PON, yang namanya
pendapatan pengurus KONI Sumbar so pasti meningkat seribu persen. Yang
hebatnya, peningkatan pendapatan itu tak hanya disaat Porwil dan PON
berlangsung, tetapi juga setahun kejuaraan terakbar di tanah air akan
berlangsung.
Kini, KONI Sumbar lagi mempersiapkan atletnya untuk berlaga di PON Jawa
Barat, September 2016 mendatang. Bagi pengurus KONI, bisa saja
mendapatkan honor berlapis-lapis, seperti honor jadi pengurus, honor
pelatprov, honor seleksi atlet, honor pelatihan. Pendapatan pengurus
KONI itu, bisa-bisa mencapai Rp 9 juta sampai Rp 10 juta. Kenapa? Karena
dengan empat jenis honor tersebut, orangnya ya itu ke itu saja.
Yang menariknya lagi, jika pengurus KONI tersebut juga jadi pengurus di
cabang olahraga, pendapatannya jadi meningkat, asalkan dekat dengan sang
ketua. Macam-macam dana yang diajukannya untuk berbagai penataran dan
pelatihan dan dana dengan dalih untuk keperluan atlet lainnya.
Yang ironisnya, anggaran yang telah dipatok APBD Sumbar senilai Rp 30
miliar sampai PON Jawa Barat, tidak ada mata anggaran untuk bonus atlet
yang berhasil meraih medali di Kejurns pra-PON dan Porwil 2015 lalu.
TAPI begitu lokomotif KONI berganti, dari Dr Syahrial Bakhtiar yang
meletakan jabatan dan menunjuk penggantinya Syaiful SH Mhum, terjadi
perubahan yang sangat menguntungkan atlet dan pelatih, termasuk
masing-masing pengprov.
Sebagai Plt KONI Sumbar, Syaiful SH Mhum mengembalikan peran dan fungsi
KONI yang hanya mengurus administrasi, anggaran dan membantu semua
kebutuhan atlet yang dipersiapkan ke PON Jawa Baat, September 2016
mendatang. Persoalan teknik latihan diserahkan kepada masing pelatih
cabor dang anggaran untuk keperluan latihan pelatprov, juga dikembalikan
ke masing-masing pengprov.
Cara Syaiful SH Mum, memperbanyak atlet andalan dari 7 orang menjadi 71
orang. Konsekwensinya pendapatan atlet menjadi meningkat, termasuk
pendapatan pelatihnya yang dinaikan berkisar Rp 500 ribu, Rp 750 ribu
dan Rp 1 juta perorang.
Kemudian, Syaiful SH Mhum membuat mata anggaran membayarkan bonus atlet
peraih medali kejurnas pra-PON lebih kurang Rp 3 miliar yang
diambilkannya dari total anggaran Rp 30 miliar yang telah dihibahkan ke
KONI Sumbar.
Bonus merupakan hak atlet dan tetapi entah kenapa, bonus peraih medali
kejurnas pra-PON dan Porwil kok terabaikan. Kesannya, pengurus KONI
Sumbar lebih mementingkan dirinya dari pada atlet. Bahasa
kasarnya;"Pengurus berladang dipunggung atlet."
Jadi kini, jika ada nada sumbang terhadap kepengurusan KONI Sumbar di
bawah kepemimpinan Plt KONI Sumbar, Syaiful SH Mhum, so pasti karena
keserakahannya menggerogoti dana KONI Sumbar terhenti.
Sebagai pecinta olahraga, tentu kita hanya bisa berharap kepada
kepengurusan KONI Sumbar di bawah komando, Syaiful SH Mhum, agar
konsekwen menciptakan atlet berprestasi secara profesional. Tugas dan
tanggungjawab seluruh pengurus KONI adalah menciptakan atlet
berprestasi.
Sebuah organisasi akan berjalan baik, jika seluruh mata rantai yang ada
di organisasi itu berjalan sesuai tugas dan fungsinya masing-masing.
Ingat, target KONI adalah menciptakan atlet berprestasi. Tetaplah
berkomitmen dan terus semangat dalam pengabdian menjaga nama Ranah
Minang Sumatera Barat di PON Jabar, September 2016 mendatang. (Penulis
wartawan tabloid bijak dan padangpos.com)

Post a Comment