Seperti malam-malam sebelumnya. Menjelang subuh yang dingin di bulan
Ramadan. Ketika mimpi masih menjalari lelapnya insan. Jarum jam
menunjukkan pukul 03.45 WIB. Suasana hening. Kala itu Tim Singgah Sahur
(TSS) Pemko Padang membelah keheningan menyasar kawasan mentereng,
Perumahan Filano I di Kelurahan Kubu Dalam Parak Karakah, Kecamatan
Padang Timur, Sabtu (11/6) dini hari.
Iring-iringan mobil
berpelat merah memasuki blok demi blok perumahan yang kelihatannya
ditempati orang-orang berada. Sekilas menafikan pikiran, jika di kawasan
ini tidak mungkin bermukim warga yang tidak mampu dan pantas diberikan
bantuan. Namun siapa nyana, ketika rombongan tim tiba di sebuah sudut
perumahan itu, terdapat pemandangan yang terbalik dengan kondisi
sekelilingnya. Yaitu didapati sebuah rumah dari papan seadanya,
beratapkan seng yang sudah berkarat dan berukuran sekira 6x7 meter,
berbeda jauh dengan rumah sekelilingnya. Seolah pemiliknya berbeda kasta
di lingkungan mapan tersebut.
Pimpinan rombongan yang tidak lain
Walikota Padang H. Mahyeldi turun dari mobil dinasnya, lalu mengetuk
pintu rumah. Setelah beberapa kali mengetuk dan mengucapkan salam, pintu
dibuka pemiliknya. Dari dalam rumah keluar pria tigapuluhan menyambut
salam dengan ucapan yang tidak lazim. Namun sang Walikota dan sebagian
lainnya langsung memahami jika pria itu mempunyai keterbatasan
berbicara. Selang beberapa lama muncul wanita muda sambil menggendong
anak. Wanita itu tidak lain istrinya. Ia juga menyambut dengan salam
dalam bahasa isyarat. Ternyata suami istri itu memang sama-sama
mempunyai keterbatasan berbicara alias tuna wicara.
Meskipun
sempat terkejut dan terlihat masih dilanda kantuk, namun pasangan
tersebut menyambut hangat TSS Pemko Padang. Mempersilahkan masuk dan
mempersiapkan tempat duduk di atas lantai semen beralaskan tikar.
Setelah duduk di atas tikar yang kelihatannya sudah lusuh, Walikota
mencoba berkomunikasi dengan tuan rumah dalam bahasa isyarat yang
kadangkala diterjemahkan oleh yang lain. Diantaranya anggota TSS Pemko
Padang yang mendampingi Walikota Mahyeldi dalam ruangan berukuran sempit
itu adalah Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker)
Frisdawati, Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah
(Bapedalda) Edi Hasymi, Kepala Inspektorat Andri Yulika, Kepala Dinas
Pertanian Peternakan Perkebunan dan Kehutanan (Dispernakbunhut) Dian
Fakri, Kepala Bagian Umum Alfiadi, Wakil Ketua Baznas Firdaus Siril dan
Camat Padang Timur Ances Kurniawan. Sedangkan anggota rombongan lainnya
terpaksa duduk beralas tikar di jalan umum.
Pasangan dikarunia
empat anak ini bernama Afrizal dan sang istri Marweti. Rumah yang mereka
tempati dibangun di atas lahan peninggalan orang tuanya. Sudah belasan
tahun rumah ini mereka tempati. Kondisinya memprihatinkan. Selain
sempit, rumah ini tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan karena
bolong-bolong dan bocor ketika hujan.
Dalam bahasa isyarat,
Afrizal mengaku tidak punya cukup uang untuk membangun rumah yang
permanen. Ia cuma bekerja sebagai buruh di pelabuhan perikanan Gaung,
sementara istrinya menerima upah mencuci dari beberapa tetangga.
Hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Belum termasuk memenuhi
biaya sekolah anak-anaknya dan untuk membeli susu anaknya yang masih
kecil.
Sungguh berat, ungkap Afrizal dengan menepuk keningnya
sendiri. Ia juga mengangkat bahu mengisyaratkan dirinya tidak mampu
berbuat lebih. Namun dengan cepat ia mengepalkan tangan pertanda ia akan
terus berjuang untuk keluarganya.
Walikota sejenak tercenung.
Tatapannya beralih kepada dua anak laki-laki pasangan itu yang duduk di
sebelahnya. Kepada dua anak yang manis dan berwajah bersih itu, Mahyeldi
bertanya tentang sekolah dan cita-cita mereka. Spontan keduanya
menjawab ingin sekolah setinggi-tingginya.
"Ingin sekolah yang
tinggi. Sampai kuliah," kata anak yang paling besar bernama Fiki Ananda
yang masih duduk di bangku kelas dua SMP. Disambung pula oleh adiknya
yang masih SD dengan jawaban senada.
Seketika Mahyeldi melirik
kepada Wakil Ketua Baznas Firdaus Siril dan menanyakan kemungkinan
Baznas dapat membantu membiayai sekolah anak-anak itu sampai mereka
nanti melanjutkan ke tingkat SMA ataupun sampai Perguruan Tinggi.
Gayung bersambut, Baznas memang mempunyai program Padang Cerdas untuk
pembiayaan pendidikan bagi anak-anak mustahik. Pihak Baznas pun
menyanggupi untuk pembiayaan sekolah kedua anak-anak tersebut.
Satu beban permasalahan terasa terangkat dari pundak pria bersahaja itu.
Afrizal tersenyum bangga sambil menatap pemimpin yang begitu perhatian
terhadap rakyatnya. Lalu ia menyusun dua telapak tangan di dada pertanda
ia berterima kasih dan sangat menghormati pimpinan yang bijak tersebut.
Bersamaan dengan itu, lapat-lapat terdengar suara dari masjid terdekat
yang menyerukan sahur. Mahyeldi melirik jam tangannya. Lalu
mengisyaratkan agar segera makan sahur bersama sebelum waktu imsyak
menjelang.
Seperti biasa, TSS Pemko Padang sudah mempersiapkan
persediaan untuk makan sahur di setiap rumah warga yang dikunjungi. Saat
itu anggota tim pun mulai makan sahur bersama keluarga Afrizal.
Sementara itu, warga sekitar yang sudah mulai terbangun untuk makan
sahur dinihari itu tak pelak menunjukkan ketercengangan dengan
kedatangan TSS Pemko Padang di komplek tempat tinggal mereka. Terlebih
tim ini dipimpin langsung Walikota Mahyeldi dan terdiri dari jajaran
pejabat eselon dua Pemko Padang.
Sebagian ada yang mencoba mendekat dan
penasaran, lalu bertanya dalam rangka apa. Setelah dijelaskan, warga
sangat mahfum. Pasalnya, berita kunjungan singgah sahur TSS Pemko Padang
sudah kerap menghiasi media massa. Bukan saja di media lokal, namun
secara nasional kegiatan di bulan puasa yang digerakkan Walikota
Mahyeldi sudah jadi perbincangan nasional. Bahkan warga menyamakan
kegiatan ini dengan perbuatan Sahabat Rasulullah Umar bin Khatab sewaktu
menjadi khalifah.
"Singgah sahur ini mengingatkan pada apa yang diperbuat sahabat Umar bin Khatab," sela warga yang mendekati rumah Afrizal.
Sebelum azan subuh berkumandang, Walikota kembali mengungkapkan niat
tim untuk membedah rumah Afrizal. Sebelumnya, Camat dan lurah setempat
diminta untuk membantu proses penetapan status tanah lokasi rumah
tersebut dari keluarga agar kemudian hari tidak timbul masalah yang
tidak diinginkan.
"Insya Allah, rumah ini akan dibedah. Camat dan
lurah diminta untuk membantu proses penetapan status lahan atas nama
keluarga ini," imbuh Mahyeldi.
Ucapan pamungkas Walikota Padang
itu menjawab harapan keluarga Afrizal untuk bisa tinggal di rumah yang
lebih layak. Setidaknya, ia dan keluarga tidak lagi seperti warga
berbeda kasta yang tinggal di lingkungan mapan.(tf/du/ch/mn/yz)

Post a Comment