Akhir – akhir ini kasus krisis air bersih di daerah
perkebunan yang ada di Provinsi Sumbar
kerap terjadi. Namun hasil analisis Walhi Sumbar, daerah yang parah krisis air bersihnya kebanyakan di
kawasan perkebunan sawit seperti,
Kabupaten Pasaman Barat, Dharmasraya, Agam dan Pesisir Selatan.
‘’Kebanyakan daerah Sumatera Barat yang paling parah krisis air bersihnya
yaitu daerah memiliki perkebunan sawit,
tetapi hal ini sifatnya tidak berkelanjutan ,’’kata Deputi Wahana Lingkungan
Hidup (Walhi) Sumbar Desriko Senin(27/4).
Menurut Desriko pada
umumnya daerah-daerah yang berbasis perkebunan sawit ini sangat rentan dengan masalah krisis air
bersih. Sebab, tanaman sawit adalah jenis tanaman yang paling banyak
membutuhkan air, dimana dalam satu batang sawit membutuhkan air sebanyak 12
liter lebih per hari.
Banyaknya pohon kepala sawit membutuhkan air, sehingga air yang terdapat dipermukaan tanah
habis untuk mengairi tanaman tersebut. Akibatnya, masyarakat yang berada di
sekitar kawasan perkebunan sawit mengalami krisis air bersih karena harus
berebutan dengan tanaman sejenis kurma ini
untuk mendapatkan air.
“Dia mencontohkan, seperti masyarakat di Kabupaten Pasaman
Barat untuk mendapatkan air bersih di permukaan tanah sebelumnya hanya membuat
sumur hanya mencapai 12 meter, namun saat ini masyarakat harus menggali sumur hingga
20 meter lebih,” ujarnya.
Dikatakannya lagi, kita sangat bersyukur Sumber daya air di
Provinsi Sumatera Barat(Sumbar) begitu melimpah dan cukup untuk kebutuhan
masyarakat mesti musim atau curah hujan
di daerah ini tidak dapat diprediksikan. ‘’Akan tetapi kita menilai penyebab terjadinya krisis air bersih di
Provinsi Sumbar sebenarnya terletak pada
masalah pengelolaan tata ruang di daerah tersebut,’’ungkapnya.
Oleh karena itu, Walhi Sumbar berharap Dinas Tata Ruang dan
Sumber Daya Air untuk mentelaah atau melakukan evaluasi terhadap permasalahan
tersebut, agar kedepannya perkebunan sawit yang ada saat ini dapat ditata
kembali sesuai dengan daya dukung dan tampung suatu daerah.
‘’Selain itu, kita dari Walhi Sumbar juga meminta agar daerah-daerah hutan yang
menjadi tangkapan air tidak dihancurkan atau dijadikan perladangan/perkebunan
sawit,jika di dilakukan maka kita kuatir serapan air tidak ada lagi di
Sumbar,’’pungkasnya. ( ys/tf)

Post a Comment