Akhirnya Kota Padang berhasil meraih rekor cukup fenomenal. Museum
Rekor Indonesia (Muri) memberi penghargaan kepada Padang karena telah
memecahkan rekor 1.200 talempong pacik. Penghargaan itu diserahkan Jumat
(23/10) di Pantai Padang.
Pemecahan rekor Muri itu dilakukan Padang di sela-sela kegiatan KTT IORA
di Hotel Mercure Padang. Sebanyak 1.200 talempong pacik itu dimainkan
oleh anak-anak sekolah se-Kota Padang. Mereka tampil dengan penuh
semangat sambil mengenakan masker.
Sebelum diberikan penghargaan, seluruh anak-anak sekolah itu mendapat dorongan semangat dari Walikota Padang H. Mahyeldi Dt Marajo. Walikota mendatangi masing-masing anak sambil menanyakan asal sekolahnya.
Dengan serempak mereka menyebut nama asal sekolahnya. Mahyeldi lantas memberi semangat dengan terus menyalami sambil bertepuk tangan mengikuti irama yang dimainkan oleh talempong itu. Walikota mengajak anak-anak sekolah untuk mengepalkan tinjunya ke langit sambil meneriakkan nama sekolah masing-masing.
“SMK 1 yes!” kata Walikota sambil diikuti anak-anak.
Walikota Padang usai penyerahan piagam rekor Muri itu mengatakan talempong pacik sengaja ditampilkan kepada seluruh tamu yang berasal dari 20 negara peserta IORA. Ini dimaksudkan untuk mengingatkan kita serta memperkenalkan kepada dunia bahwa Padang memiliki kekayaan seni yang beraneka ragam dan perlu diangkat di pentas dunia.
“Terimakasih kepada seluruh yang terlibat sehingga kita dapat memecahkan rekor Muri,” katanya di depan Lapau Panjang Cimpago (LPC) Pantai Padang.
Piagam penghargaan ini diserahkan langsung oleh perwakilan dari Muri. Penghargaan diterima langsung Walikota Padang. Disaksikan langsung diantaranya Sekretaris Daerah Kota Padang Nasir Ahmad, Ny Harneli Mahyeldi dan sejumlah delegasi dari sejumlah negara yang hadir.
Babendi-bendi.
Sebelum penampilan pemecahan rekor Muri ini, sejumlah delegasi dari berbagai negara Babendi-bendi dari Hotel Mercure menuju Pantai Padang. Mereka menaiki kendaraan tradisional asli Minangkabau itu dengan rute Hotel Mercure-Jalan Veteran-Olo Ladang-Pantai Padang.
Mereka terlihat begitu senang dan gembira.
Seorang delegasi asal Mozambik, Mr Antonio Machave, mengaku cukup senang setelah naik bendi.
“How nice ride this, this does not exist in my country (senang sekali naik ini, di tempat saya ini tidak ada),” katanya usai turun dari bendi.*
Sebelum diberikan penghargaan, seluruh anak-anak sekolah itu mendapat dorongan semangat dari Walikota Padang H. Mahyeldi Dt Marajo. Walikota mendatangi masing-masing anak sambil menanyakan asal sekolahnya.
Dengan serempak mereka menyebut nama asal sekolahnya. Mahyeldi lantas memberi semangat dengan terus menyalami sambil bertepuk tangan mengikuti irama yang dimainkan oleh talempong itu. Walikota mengajak anak-anak sekolah untuk mengepalkan tinjunya ke langit sambil meneriakkan nama sekolah masing-masing.
“SMK 1 yes!” kata Walikota sambil diikuti anak-anak.
Walikota Padang usai penyerahan piagam rekor Muri itu mengatakan talempong pacik sengaja ditampilkan kepada seluruh tamu yang berasal dari 20 negara peserta IORA. Ini dimaksudkan untuk mengingatkan kita serta memperkenalkan kepada dunia bahwa Padang memiliki kekayaan seni yang beraneka ragam dan perlu diangkat di pentas dunia.
“Terimakasih kepada seluruh yang terlibat sehingga kita dapat memecahkan rekor Muri,” katanya di depan Lapau Panjang Cimpago (LPC) Pantai Padang.
Piagam penghargaan ini diserahkan langsung oleh perwakilan dari Muri. Penghargaan diterima langsung Walikota Padang. Disaksikan langsung diantaranya Sekretaris Daerah Kota Padang Nasir Ahmad, Ny Harneli Mahyeldi dan sejumlah delegasi dari sejumlah negara yang hadir.
Babendi-bendi.
Sebelum penampilan pemecahan rekor Muri ini, sejumlah delegasi dari berbagai negara Babendi-bendi dari Hotel Mercure menuju Pantai Padang. Mereka menaiki kendaraan tradisional asli Minangkabau itu dengan rute Hotel Mercure-Jalan Veteran-Olo Ladang-Pantai Padang.
Mereka terlihat begitu senang dan gembira.
Seorang delegasi asal Mozambik, Mr Antonio Machave, mengaku cukup senang setelah naik bendi.
“How nice ride this, this does not exist in my country (senang sekali naik ini, di tempat saya ini tidak ada),” katanya usai turun dari bendi.*

Post a Comment